Minggu, 19 Juli 2009

Lomba Mengarang

Kalau kemarin aku sudah bercerita tentang honor pertamaku yang dikirim melalui wesel, sekarang aku mau berbagi cerita tentang awal mula aku tahu kalau aku bisa menulis. Waktu itu aku kelas lima di SDN Puntari Makmur II Kec. Bungku sekarang berubah menjadi Bungku Barat dan Kab. Poso sekarang Kab. Morowali. Aku tidak tahu mengapa waktu itu aku dipilih oleh guruku untuk mewakili sekolahku mengikuti lomba mata pelajaran bahasa Indonesia yaitu mengarang. Perasaanku waktu itu biasa-biasa saja. Namanya juga anak-anak. Disuruh ya patuh aja. Aku sama sekali tidak berambisi untuk menang. Aku berangkat di sekolah Rayon bersama teman-teman untuk mengikuti lomba tingkat awal sebelum dibawa ke kecamatan. Waktu lomba aku duduk bersebelahan dengan temanku dari SDN Puntari Makmur I. Dia anak kepala sekolah dan aku sangat mengenalnya karena kami pernah menjadi teman sekelas sebelum sekolah kami dibagi menjadi dua. Beberapa guru menyapanya. Dia anak kepala sekolah pasti banyak guru-guru yang mengenalnya. Lomba pun dimulai. Peserta diberi beberapa tema untuk dipilih. Aku memilih tema listrik masuk desa. Alasanku lebih gampang saja. Padahal waktu itu di desaku belum ada listrik lho. Aku cuma bermodal pelajaran di sekolah aja. Di tengah-tengah berlangsungnya lomba itu sebentar-sebentar aku berhenti mencari kalimat yang tepat sambil sesekali melirik temanku tapi tidak bermaksud menyontek lho. Aku hanya berpikir dia kok nulis terus ya. Lancar banget dia sehingga dia cepat sekali mendapatkan banyak halaman. Tapi akhirnya lomba itu selesai juga. Sebelum dikumpulkan aku berulang kali membaca karanganku sambil membenahi sana sini. Enak juga dibaca pikirku. Lalu kami keluar ruangan sambil menunggu pengumuman karena lomba itu langsung dinilai dan hasilnya akan diumumkan hari itu juga. Aku dan beberapa teman mengintip ke dalam kantor. Disana banyak sekali guru-guru yang berkumpul sambil membaca karangan-karangan kami. Aku memperhatikan seorang guru perempuan yang sedang tersenyum sambil manggut-manggut membaca sebuah karangan. Lalu ia Memberitahukan sesuatu kepada yang lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Sepertinya mereka sedang berdiskusi. Tapi yang membuatku penasaran bukan itu. Tapi kertas yang dipegangnya itu, kok kayaknya itu karanganku. Dan aku semakin yakin. Aku pun seolah mendapat firasat. Perasaanku senang banget. Padahal aku kan belum tahu aku bakalan mendapat juara apa tidak. Aku berlari ke arah penjual jajanan. Aku mulai menghabiskan uang saku yang diberikan ibu untuk membeli jajanan yang kusukai. Ketika sedang menikmati kue-kue yang ku beli terdengar sebuah suara dari pengeras suara. Pengumuman akan dibacakan. Kami semua diam dan aku mendengar dengan seksama. Dan aku berjingkrak senang, gembira bukan main ketika namaku disebut sebagai juara pertama karena karanganku adalah karangan yang terbaik. Dan akhirnya aku dikirim ke kecamatan. Cerita dilanjutkan di postingan selanjutnya.

1 komentar:

  1. salam kenal sobat
    ayo kita tingkatkan pengunjung
    blog kita

    silahkan kunjungi blog saya http://mertacell.blogspot.com

    n jangan lupa komen balik!

    BalasHapus