Sabtu, 25 Juli 2009

Sayembara Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato

LOMBA Menulis Naskah Pidato dan Lomba Pidato diadakan oleh Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia (GMP-AM) bekerja sama dengan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI dengan tema Pemimpin yang berakhlak mulia. Dengan Petunjuk teknis sebagai berikut :

PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN SAYEMBARA PENULISAN NASKAH PIDATO DAN LOMBA PIDATO
Sistem Pelaksanaan

Sayembara dan Lomba ini dilaksanakan secara berjenjang, yaitu tingkat provinsi, tingkat wilayah/regional dan tingkat nasional. Pemenang yang dikirim ke sayembara dan lomba tingkat wilayah/regional adalah hasil seleksi di tingkat provinsi, dan pemenang yang dikirim ke sayembara dan lomba tingkat nasional adalah hasil seleksi tingkat wilayah/regional.

Tahapan Lomba

Tahap I :

Dinas Pendidikan dan/atau Balai Bahasa Provinsi menerima naskah dari sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Dinas pendidikan dan/atau balai bahasa provinsi melakukan penilaian administratif dan penilaian terhadap naskah pidato untuk memilih 12 naskah terbaik untuk masing-masing kategori, yaitu masing-masing 2 (dua) orang (laki-laki dan perempuan) Juara I, Juara II, Juara III, Juara Harapan I, Juara Harapan II, dan Juara Harapan III. Dengan demikian paling banyak setiap provinsi akan mengirimkan 36 naskah terseleksi dari setiap provinsi.

Tahap II :

Panitia tingkat wilayah/regional menerima naskah pemenang dari tingkat provinsi. Panitia kembali melakukan pemeriksaan kelengkapan syarat administrasif dan melakukan penilaian terhadap naskah pidato. Panitia wilayah/regional akan memilih hanya dua naskah terbaik (laki-laki dan perempuan) untuk setiap kategori. Dengan demikian jika komposisi pesertanya lengkap, setiap provinsi akan mengirim 6 (enam) naskah (3 laki-laki dan 3 perempuan) untuk mengikuti sayembara penulisan naskah pidato dan lomba pidato di tingkat wilayah/regional. Panitia tingkat wilayah/regional akan mengirimkan 2 orang Juara I (laki-laki dan perempuan) untuk setiap kategori untuk bertanding di tingkat nasional. Dengan demikian, setiap wilayah/ regional akan mengirim wakil terpilih untuk wilayah/regional itu sebanyak 6 orang (3 laki-laki dan 3 perempuan). Mereka yang terpilih ini diharuskan menulis naskah pidato baru yang akan dilombakan di tingkat nasional.

Tahap III :

Panitia nasional akan melakukan seleksi berdasarkan naskah pidato sekaligus penyampaian pidato itu. Semua peserta yang mengikuti lomba di tingkat nasional akan dikarantina di Jakarta dan dalam masa karantina itu mereka akan dibekali wawasan penggunaan bahasa indonesia yang benar, prilaku akhlak mulia, retorika dan teknik berbicara di depan publik, kepemimpinan dan wawasan kebangsaan, serta etika khusus bagi peserta perempuan.

Peserta :

Peserta lomba dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu kategori pelajar, kategori mahasiswa, dan kategori umum.

1.
Peserta yang kategori pelajar adalah mereka yang berstatus sebagai siswa SLTP, SLTA dan yang sederajat dengan bukti surat keterangan dari Kepala Sekolah, foto copi kartu pelajar dan dua lembar pas poto warna terbaru ukuran 4 X 6 cm.
2.
Peserta yang kategori mahasiswa adalah mereka yang masih berstatus mahasiswa aktif S1 dengan bukti Surat Keterangan dari Dekan/Direktur Perguruan Tinggi, foto copi kartu mahasiswa dan dua lembar pas poto warna terbaru ukuran 4 X 6 cm.
3.
Peserta yang kategori umum adalah mereka yang berusia maksimal 40 tahun, yang bukan pelajar dan bukan mahasiswa S1 dengan dilengkapi bukti berupa Surat Keterangan dari Kepala Desa/Kelurahan, poto copi Kartu Tanda Penduduk dan dua lembar pas poto warna terbaru ukuran 4 X 6 cm.

Penilaian :

Pemilihan pemenang didasarkan pada penilaian naskah pidato dan penyampaian pidato di depan forum. Peserta yang dianggap baik adalah peserta yang dapat menulis naskah pidato yang sekaligus dapat menyampaikannya di depan forum secara baik.

Kriteria Naskah Pidato :

Naskah pidato yang dianggap baik dalam sayembara penulisan naskah pidato dan lomba pidato ini adalah naskah yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1.
Naskah pidato adalah karya asli, bukan saduran, terjemahan atau tulisan hasil karya orang lain .
2.
Naskah pidato berisi ungkapan gagasan asli.
3.
Naskah pidato ditulis dalam Bahasa Indonesia yang memenuhi standar kebakuan. Naskah diketik rapi dengan spasi ganda dalam kertas HVS yang berukuran A4 atau kuarto.
4.
Naskah pidato yang telah lulus seleksi pada tingkat wilayah dan tingkat nasional disampaikan secara lisan dalam bentuk pidato dengan waktu maksimal 10 menit.
5.
Naskah pidato tidak mengandung unsur SARA atau dukungan terhadap salah satu golongan tertentu.

Atas naskah pidato ini akan dilakukan penilaian terhadap Bahasa Indonesia yang digunakan, keaslian gagasan, keruntutan dan ketentuan gagasan, dan teknik penyampaian.

Kriteria Pidato :

Pemidato yang baik adalah mereka yang bisa menyampaikan pesan melalui pidatonya secara efektif dan efisien dangan memperhatikan aspek kewajaran gaya dan kemampuan memahamkan pendengar akan maksud pidato itu. Dalam lomba ini, penyampaian pidato hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :

1. Pidato disampaikan dalam waktu maksimal 10 menit.
2. Pidato disampaikan dengan artikulasi yang jelas dan mudah dipahami.
3. Pidato akan disampaikan kepada masyarakat melalui media televisi.
4. Pidato menggunakan retorika yang efektif.

Juri lomba :

Juri lomba terdiri atas unsur tokoh atau pakar dibidang bahasa, tokoh yang mumpuni tatanan nilai-nilai akhlak mulia, pakar dibidang komunikasi, pakar dibidang retorika dan kemampuan berbicara didepan umum, tokoh yang mumpuni dalam kepemimpinan, dan tokoh yang mumpuni di bidang etika khusus untuk peserta perempuan.

Jakarta, 25 juni 2009
Panitia Sayembara Penulisan Naskah Pidato & Lomba Pidato

Minggu, 19 Juli 2009

Lomba Mengarang

Kalau kemarin aku sudah bercerita tentang honor pertamaku yang dikirim melalui wesel, sekarang aku mau berbagi cerita tentang awal mula aku tahu kalau aku bisa menulis. Waktu itu aku kelas lima di SDN Puntari Makmur II Kec. Bungku sekarang berubah menjadi Bungku Barat dan Kab. Poso sekarang Kab. Morowali. Aku tidak tahu mengapa waktu itu aku dipilih oleh guruku untuk mewakili sekolahku mengikuti lomba mata pelajaran bahasa Indonesia yaitu mengarang. Perasaanku waktu itu biasa-biasa saja. Namanya juga anak-anak. Disuruh ya patuh aja. Aku sama sekali tidak berambisi untuk menang. Aku berangkat di sekolah Rayon bersama teman-teman untuk mengikuti lomba tingkat awal sebelum dibawa ke kecamatan. Waktu lomba aku duduk bersebelahan dengan temanku dari SDN Puntari Makmur I. Dia anak kepala sekolah dan aku sangat mengenalnya karena kami pernah menjadi teman sekelas sebelum sekolah kami dibagi menjadi dua. Beberapa guru menyapanya. Dia anak kepala sekolah pasti banyak guru-guru yang mengenalnya. Lomba pun dimulai. Peserta diberi beberapa tema untuk dipilih. Aku memilih tema listrik masuk desa. Alasanku lebih gampang saja. Padahal waktu itu di desaku belum ada listrik lho. Aku cuma bermodal pelajaran di sekolah aja. Di tengah-tengah berlangsungnya lomba itu sebentar-sebentar aku berhenti mencari kalimat yang tepat sambil sesekali melirik temanku tapi tidak bermaksud menyontek lho. Aku hanya berpikir dia kok nulis terus ya. Lancar banget dia sehingga dia cepat sekali mendapatkan banyak halaman. Tapi akhirnya lomba itu selesai juga. Sebelum dikumpulkan aku berulang kali membaca karanganku sambil membenahi sana sini. Enak juga dibaca pikirku. Lalu kami keluar ruangan sambil menunggu pengumuman karena lomba itu langsung dinilai dan hasilnya akan diumumkan hari itu juga. Aku dan beberapa teman mengintip ke dalam kantor. Disana banyak sekali guru-guru yang berkumpul sambil membaca karangan-karangan kami. Aku memperhatikan seorang guru perempuan yang sedang tersenyum sambil manggut-manggut membaca sebuah karangan. Lalu ia Memberitahukan sesuatu kepada yang lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Sepertinya mereka sedang berdiskusi. Tapi yang membuatku penasaran bukan itu. Tapi kertas yang dipegangnya itu, kok kayaknya itu karanganku. Dan aku semakin yakin. Aku pun seolah mendapat firasat. Perasaanku senang banget. Padahal aku kan belum tahu aku bakalan mendapat juara apa tidak. Aku berlari ke arah penjual jajanan. Aku mulai menghabiskan uang saku yang diberikan ibu untuk membeli jajanan yang kusukai. Ketika sedang menikmati kue-kue yang ku beli terdengar sebuah suara dari pengeras suara. Pengumuman akan dibacakan. Kami semua diam dan aku mendengar dengan seksama. Dan aku berjingkrak senang, gembira bukan main ketika namaku disebut sebagai juara pertama karena karanganku adalah karangan yang terbaik. Dan akhirnya aku dikirim ke kecamatan. Cerita dilanjutkan di postingan selanjutnya.

Akhirnya Honor Pertama Datang Juga

Pagi-pagi, tanggal 17 Juli 2009, yach beberapa hari yang lalu,aku dikejutkan oleh sebuah berita yang menyenangkan. Aku bertemu bu Sekdes di sebuah kios dan dia mengatakan aku mendapat wesel dari Redaksi. Duh! senang bukan main. Itu berarti naskahku diterima. Tapi naskah yang mana ya? dan dari redaksi apa? soalnya aku sudah terlalu sering mengirim cerpen-cerpen ke berbagai media tapi akhirnya dikembalikan atau bahkan tak ada kabar sama sekali. Keraguanku sedikit muncul. Benar nggak ya tadi maksudnya wesel? bukan paket kan? takutnya bu Sekdes tadi salah ngomong? takutnya nanti yang aku dapatkan adalah paketan naskah yang dikembalikan. Yach, tapi aku berharap itu benar-benar wesel. Aku tidak perduli berapa nilai nominalnya. Diterbitkan saja aku sudah sangat bersyukur. Alhamdulillah ya Allah. Aku berharap ini adalah jalan pembuka kariru di dunia kepenulisan yang sudah lama aku idam-idamkan. Akhirnya jam delapan aku pergi ke balai desa bermaksud menanyakan kebenaran berita itu. Karena petugasnya belum datang aku pergi ke sekolah tempatku mengajar. Kemudian pulangnya aku mampir lagi. Eh ternyata bener, aku mendapatkan wesel dari sebuah redaksi. Tapi bukan dari cerpen-cerpen yang aku kirimkan, tapi dari puisi yang pernah aku kirimkan lewat email. Yach....., emang tidak banyak sih. Cuma 25 ribu. Tidak dilihat dari kerjanya ringan banget kok. Aku menulisnya kurang lebih 5 menitan. Jadi lumayankan 5 menit dapat 25 ribu..... Harapan dan rencanaku ke depan semoga aku benar-benar menjadi penulis yang kreatif, produktif dan tentu saja bobot tulisanku berkualitas. Sehingga dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. Amin. Semoga semuanya diRidloi dan di Rahmati Allah SWT. Amin.